pengumuman

pengumuman

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Pilkada NTB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pilkada NTB. Tampilkan semua postingan

Pasca Pemilukada, PNS Lotim Dinilai Kurang Gairah Kerja

Written By Unknown on Selasa, 28 Mei 2013 | 05.51


Lotim - Para pejabat dan Pegawai Negeri Sipil di lingkup Pemerintah Kabupaten Lombok Timur belakangan ini kelihatan kurang bergairah dalam bekerja. Padahal, masih banyak pekerjaan di kantornya masing-masing yang harus dikerjakan dan diselesaikan sesuai program kerja yang telah tersusun dalam APBD tahun 2013.

Hal itu terlihat pasca Pemilukada bupati/wabup Lotim tahun 2013 dan memasuki masa transisi kepemimpinan Lotim dari Bupati Lotim, HM Sukiman Azmy dan Wakil Bupati, HM Syamsul Luthfi ke bupati/wabup Lotim yang menjadi pemenang dalam Pemilukada Lotim.

Kabag Humas dan Protokol Setdakab Lotim, Iswan Rachmadi saat dikonfirmasi membantah bila para pejabat dan PNS di Lotim tidak bergairah bekerja pasca Pemilukada Lotim. Yang jelas, kata Iswan Rachmadi, semua PNS tetap bekerja sesuai tufoksi masing-masing dalam menjalankan program yang telah disusun dengan baik dalam APBD tahun 2013. Begitu juga dengan pelayanan kepada masyarakat di Lotim, harus tetap dilakukan secara maksimal. Tidak boleh ada yang terhenti untuk memberikan kesejahteraan dan kemakmuraan bagi masyarakat Lotim ke arah yang lebih baik.

‘’Tidak benar kalau PNS di Lotim tidak semangat dalam bekerja. Justeru sebaliknya, mereka tetap bekerja menjalankan program yang ada. Memang di Lotim baru saja menggelar pesta demokrasi untuk memilih pemimpin lima tahun ke depan dengan suasana yang kondusif,’’ ungkapnya.

Sebelumnya, Sekda Lotim, H Usman Muhsan meminta kepada semua PNS di lingkup Pemkab Lotim untuk menerima semua hasil Pemilukada bupati/wabup Lotim dengan lapang dada, dan tidak memperpanjangan lagi masalah Pemilukada di kalangan para birokrasi pemerintahan di daerah ini.

Ia berharap kepada para PNS untuk tidak saling curiga-mencurigai lagi terhadap siapa yang dipilih. Mengingat pemenangnya sudah diumumkan oleh KPU Lotim. Sehingga, harus dijalani apa yang sudah menjadi ketentuan Allah SWT, dengan tujuan yang sama untuk memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi masyarakat Lotim ke arah yang lebih baik. Karena, siapapun yang terpilih menjadi pemimpin, itulah pilihan rakyat Lotim yang terbaik.

‘’Pemilukada sudah selesai dan hasilnya harus diterima dengan lapang dada. Kemenangan hanya milik masyarakat Lotim, karena mereka yang memilih, bukan kemenangan untuk paket calon, sehingga inilah yang harus diingat,’’ katanya.

Usman Muhsan mengimbau semua aparatur birokrasi di Lotim agar tetap bekerja sesuai dengan program yang ada. Ia tidak ingin hanya karena masalah Pemilukada kemudian berdampak kepada kinerja. ‘’Program yang ada harus dijalankan dengan sebaik-baiknya sampai tuntas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat di Lotim,’’ ungkapnya.


*Lomboktoday

Survey, Support dan Surprise! (Euphoria Menjelang Pemilukada NTB)

Written By Unknown on Kamis, 28 Maret 2013 | 22.10



Tahun 2013 menjadi tahun politik yang “panas”. Suhu cuaca meningkat lebih gerah dari sebelumnya. Di NTB khususnya, rasa-rasanya ingin bawa “alat pendingin” kemana-mana. Komentar sedikit saja, langsung dikaitkan-kaitkan dengan Pemilukada. Gaung demokrasi masuk ke pelosok dari banyak perkumpulan sampai pada diskusi ringan warung kopi pembicaraannya berkisar soal “kira-kira siapa yang akan menang?” dari “kira-kira” ini, spekulasi banyak bermunculan. Bahkan statmen Paranormal semakin laku dibincang.

Pesta demokrasi, begitu kata orang-orang. Tingkah laku ini diam-diam menarik juga untuk dilihat sebagai satu catatan: daerah kita maju-bersaing sebagai pola relasi tumbuh kembangnya demokrasi. Dan judul tulisan yang mengambil tiga sisi ini mencoba melihat gerak itu sebagai satu renungan panjang dari ragam gerak orang-orang. selebihnya mari menafsir sendiri-sendiri.

Survey (Penelitian)

“Tidak ramai rasanya jika Pemilukada tanpa publish hasil survey” begitu komentar yang saya dengar dari seorang teman ketika membaca hasil elektabilitas yang dilakukan oleh salah satu lembaga survey beberapa waktu lalu. Lembaga survey “kebanjiran” order menjelang pemilukada. Lembaga-lembaga survey jauh hari semacam “alat ramal” bagi para kandidat yang hendak bertarung di Pemilukada.

Hasil survey (statistik parametrik) biasanya terdapat empat syarat yang harus dapat dipenuhi sehingga data menjadi valid. Empat syarat tersebut diataranya: normalitas, homogenitas, heterogenitas dan linieritas. Terlepas dari empat syarat tersebut, sekali lagi hasil analisa lembaga survey “mengambil posisi” sebagai alat dongkrak popularitas yang diharapkan memberi berpengaruh pada signifikan tidaknya suara.

Di salah satu forum diskusi di facebook (fb) tak jarang publikasi hasil survey menjadi bahan perdebatan. Pendukung pasangan (Cagub/ Cawagub) yang secara kebetulan (tidak) diuntungkan oleh hasil survey tersebut: berkomentar, mengkomplain hasil survey seperti konsumen yang mengkomplain produk barang “jadi” yang terlanjur dibelinya. Dan untuk sebagian pendukung yang merasa “jagoannya” dimenangkan oleh hasil survey tersebut berkomentar mencari-cari pembenaran yang dikait-kaitkan dengan hasil survey. Fenomena yang menarik, semakin meningkatnya akun abal-abal (akun palsu) yang sengaja diciptakan sebagai salah satu cara counter isu media sosial.

Hasil survey ini tak jarang disandingkan dengan hasil ramalan Paranormal. Lucu memang, menjelang pemilukada bukan hanya lembaga survey yang kebanjiran orderan, bahkan tak jarang Paranormal juga mengambil posisi yang “menguntungkan” dengan statmen-statmen di surat kabar. Terlepas dari apakah ini soal “pesanan”, valid atau tidak hasilnya kemudian, fakta init toh menjadi salah satu strategi pilihan yang berusaha untuk “menekan keyakinan” publik pada Pemilukada.

Bagi lembaga survey, dalam membahasakan data hasilnya pendekatan metodologi memang penting dipublikasi untuk membedakan hasil survey dengan hasil ramalan Paranormal. Paranormal yang statmennya kadang sulit diterima akal, cukup dari hasil penerawangan, ramalan mimpi lantas semacam “hendak” menggiring alam bawah sadar tentu saja konyol untuk sebagian orang. Tetapi tidak sedikit juga yang masih meyakini sebagai pencitraan untuk harapan kemenangan.

Semacam bisnis politik menjelang Pemilukada, lebih jauh tak akan dibahas dalam tulisan ini berangkat dari banyak pengalaman hasil survey sementara tak jarang mengecewakan setelah perhitungan suara pada hari H dilakukan. Bukan meragukan kapasitas Lembaga Survey tetapi dumee (modifikasi data) hasil survey juga tak lepas dari kemungkinan faktor human error. Maka publik juga perlu bijak menyikapi hasil survey. Yang merasa “dimenangkan” sebaiknya tidak terlalu yakin dengan bayang-bayang kemenangan karena bisa jadi ini sisi kelemahan, maka penting untuk mempertahankan elektabilitas lapangan. Dan bagi yang merasa tidak diuntungkan, jangan lantas mencibir dengan buru-buru mengatakan “ini rekayasa” karna bisa jadi hasil survey juga dapat menjadi evaluasi kinerja bagi tim pemenangannya.

Sekali lagi survey penting ada untuk “melihat” sejauh mana elektablitas pemilih di NTB dalam menentukan suara. Meskipun ada juga kandidat yang tidak menggunakan “jasa survey ini untuk berandai-andai dalam menentukan sikap. Cukup dengan melihat publikasi hasil survey lawan, mereka sudah dapat informasi di mana titik-titik rawan untuk “menyerang”.

Support (Mendukung)

Saya termasuk penggemar acara adu bakat, X-Factor Indonesia yang disiarkan langsung oleh TV swasta setiap Jumat malam,. Suara-suara kontestan terbilang unik dengan aransemen lagu dan penampilan panggung yang gemilang. Nama-nama seperti Fathin Zidkia Lubis, Novita Dewi, Alex Rudiarth (salah tiganya) menjadi nominasi nama-nama kontestan dengan aksi panggung yang cemerlang bagi saya sayang untuk dilewatkan.

Pola penjaringan bakat dalam kontes suara satu ini terbilang unik (faktor x) karena setiap kontestan “didampingi” oleh musisi-musisi ternama sebut saja Ahmad Dhani, Anggun, Baby Romeo, dan Rossa. Sekaligus bertindak sebagai komentator untuk penampilan para kontestan setiap minggunya. Sebagai bisnis media, persamaan yang dengan kontes-kontes lainnya tentu saja pada pooling suara dan SMS pemirsa yang menentukan kontestan ini terus bisa tampil di panggung atau tereliminasi.

Beginilah dalam setiap kontes ajang pencarian bakat, tidak dapat dinilai penuh dari aksi panggung juga kemasan penampilannya akan ada faktor-faktor lain yang tetap harus diperhitungkan termasuk dukungan pemirsa yang dapat disalurkan melalui SMS atau call center yang disediakan panitia. Pendukung yang berkontribusi banyak untuk menentukan siapa pemenang sekali lagi merupakan gejolak suara pemirsa dari konsekwensi laku kerasnya tontonan yang disuguhkan. X-Factor Indonesia mengejawantah dalam Pemilukada NTB.

Empat calon kandidat yang sudah dipastikan lolos oleh KPU untuk berlaga dalam Pemilukada NTB 2013 tidak lepas dari keberadaan Parpol yang mendukungnya (baca: diusung) sebagai kendaraan. Meskipun salah satu kandidat dari calon independen gagal untuk turut berlaga pada 13 Mei nanti. Empat kandidat yang lolos seleksi calon antara lain: Pasangan Suryadi Jayadi Putra berpasangan dengan rekan separtainya Johan Rosihan dari PKS yang menyebut dirinya pasangan SJP-JOHAN diusung oleh dua Parpol lainnya yaitu PBR dan PPRN. Pasangan K.H Zulkifli Mahadli berpasangan dengan Prof. Dr. M. Ichsan (ZUL-ICHSAN) diusung PBB, PKPB dan PKNU, pasangan incumbent Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, MA. Berpasangan dengan H.M Amin, SH yang populer disebut pasangan TGB-AMIN diusung oleh tujuh Parpol diantaranya Partai Demokrat, Golkar, PDI-Perjuangan, PAN, PPP, PKB, Gerindra. Dan pasangan yang menyebut dirinya sebagai pasangan HARUM (H. Harun Al-Rasyid dengan Dr. Muhyi Abidin) diusung oleh Partai Hanura dan Parpol non parlemen.

Kandidat pasangan Cagub-Cawagub yang balihonya sudah terpajang dimana-mana. Sepanjang pinggir jalan, tertempel di pohon-pohon, kadang membuat kita merasa sedang melewati etalase panjang pasar bernama Pemilukada. Baliho-baliho yang terpasang, sebagai cara sosialisasi dan bentuk harapan dukungan pemilih.

Surprise (Kejutan)

“wow!!” Satu ungkapan akhir-akhir ini sering kita dengar akrab dalam komunikasi sehari hari. Sebagai ungkapan yang mewakili keterkejutan. Pemilukada yang terus-menerus berusaha di-yakin-i untuk dapat dimenangkan satu putaran hampir oleh keempat pendukung pasangan. Optimisme bagi tim pemenangan menjadi kata kunci yang penting sebagai salah satu cara untuk mempengaruhi kelompok-kelompok masyarakat.

Kejutan-kejutan menyenangkan sering dimimpikan banyak orang. Kejutan yang juga sering kita saksikan berupa tontonan reality show “Jumpa Selebritis” (misal) Bagaimana sosok artis tiba-tiba mengunjungi fans “beratnya” lalu histeris. Acara semacam ini sering kita saksikan di layar kaca “dikemas” sedemikian rupa menjadi hal yang “wow” untuk sebagian orang.

Sekali lagi, surprise (kejutan) dalam Pemilukada tentu saja berbeda dengan acara reality show yang dimaksud di atas. Kejutan bukan semata-mata hal yang menyenangkan bukan? karena kejutan yang tidak menyenangkan pun kita lupa memaknainya sebagai sebuah kejutan. Karena sistem otak bawah sadar kita (mungkin) sudah terlanjur mensetting “kejutan identik dengan sesuatu yang menyenangkan”. Jika dapat dirumuskan dalam tulisan ini “Survey + Dukungan= Kejutan” atau bisa jadi “Survey - Dukungan = Kejutan” (rumus yang masih dapat dimodifikasi menurut saya). Perkara kejutan ini akan menyenangkan atau megecewakan menjadi konsekwensi dari satu pertarungan.

Siapa penerima kejutan? Penerima kejutan dalam tulisan ini adalah mereka yang terlibat aktif dalam setiap proses yang terbangun. Saran saya, dalam Pemilukada NTB kali ini jadilah pencipta kejutan yang mendukung kandidat anda. Karena konon ada juga yang “lebih suka” masuk menyebut dirinya sebagai “golongan putih” (Golput) tidak ingin menyalurkan hak suara dengan berbagai alasan.

Bukan berarti penulis tak menghormati mereka yang Golput sebagai sebuah pilihan, akan tetapi Golput bisa jadi selemah-lemah iman dalam menentukan suara. Jika kita yakin dengan pilihan pada kandidat untuk mendukung perubahan atau meneruskan pembangunan yang sudah ada kearah kemajuan, maka suara-suara penting untuk disalurkan. Karena kejutan bukan saja untuk kandidat tapi lebih dari itu NTB membutuhkan kejutan-kejutan pembangunan dari pemimpin muda yang cemerlang. Wallahualambissawab***

Maya Rahmayanti
http://politik.kompasiana.com/2013/03/29/survey-support-dan-surprise-euphoria-menjelang-pemilukada-ntb-546126.html

Pemilukada NTB, SJP-Johan Unggul 45%



Mataram – Berdasarkan hasil poling yang dilakukan oleh media online terbesar dan terpercaya di Nusa Tenggara Barat yaitu sumbawanews.com, hingga pada hari ini (Kamis, 28-3-2013) menempatkan pasangan calon nomor urut dua - SJP-Johan mengungguli tiga pasangan calon lain dengan jumlah perolehan suara 45%.

Hasil poling tersebut diakui oleh Muhammad Japri selaku Ketua Tim Pemenangan SJP-Johan sebagai salah satu bukti bahwa masyarakat NTB membutuhkan sosok gubernur baru yang bisa memimpin NTB dalam nuansa kebersamaan. Pembangunan yang merata dan tidak timpang antara pulau Lombok dan Sumbawa, dan terlepan dari kepentingan kelompok-kelompok tertentu.

Yang penting adalah, hasil tersebut tidak lantas membuat “terlena” mesin-mesin pemenangan yang dimiliki oleh SJP-Johan, namun terus bergerak meningkatkan prosentase elektabilitas pasangan SJP-Johan. “Kami optimis, SJP-Johan  menang dalam satu putaran”, Pungkasnya. [why]

Debat Kandidat Pilkada NTB Digelar Dua Kali



Mataram, 27/3 (Antara) - Debat kandidat pasangan calon peserta pemilihan kepala daerah (pilkada) di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan digelar sebanyak dua kali, dan akan disiarkan secara langsung oleh televisi nasional yang berbeda.

"Kami akan laksanakan debat kandidat dalam tahapan kampanye, sebanyak dua kali. Jadwalnya akan segera disampaikan," kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi NTB Fauzan Khalid, pada pleno KPU NTB dengan agenda penentuan nomor urut pasangan calon peserta pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, di Mataram, Rabu.

Penentuan nomor urut itu dengan cara diundi, masing-masing pasangan calon diminta mengambil kertas undian berisi nomor yang dibungkus pita. Pengundian dilakukan berdasarkan nomor urut saat pasangan calon itu mendaftar di KPU NTB.

Pasangan calon Harun Al Rasyid dan TGH Lalu Muhyi Abidin yang menggunakan sandi politik Harum, lebih dulu mengambil kertas undian dan mendapat nomor urut 3, kemudian diikuti pasangan calon DR KH Zulkifli Muhadli dan Prof DR H Muhammad Ichsan atau Zul-Ichsan yang mendapat nomor urut 4.

Selanjutnya pasangan calon TGH M Zainul Majdi dan Muhammad Amin atau TGB-Amin, yang mendapat nomor urut 1, dan pasangan calon H Suryadi Jaya Purnama dan Johan Rosihan atau "Suryadi-Johan" yang mendapat nomor urut 2.

Keempat pasangan calon itu ditetapkan sebagai peserta dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2013-2018, oleh KPU NTB pada 25 Maret 2013. 

Fauzan mengatakan, kampanye yang baru akan dimulai pada 26 April hingga 9 Mei 2013, yang diawali dengan penyampaian visi dan misi pasangan calon dalam sidang paripurna DPRD NTB.

Namun, sebelum memasuki tahapan kampanye, KPU NTB akan menggelar rapat koordinasi dengan para tim kampanye masing-masing pasangan calon untuk menyepakati lokasi pelaksanaan kampanye.

"Dalam waktu dekat ini, kami akan undang masing-masing tim kampanye untuk koordinasikan berbagai hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kampanye," ujarnya.

KPU NTB juga akan mengundang masing-masing tim kampanye untuk menyepakati deklarasi pilkada damai.

Paket "Harum" diusung oleh 18 parpol yakni Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), PNBK Indonesia, PPDI, Partai Buruh, PNIM, PDP, PSI, PPNUI, PPN, PPI, PKP, Partai Patriot, Partai Merdeka, PMB, PIS, Parta Barnas, Partai Kedaulatan, dan PKPI.

Harun merupakan mantan Gubernur NTB periode 1998-2003 yang kini masih menjadi anggota DPR dari Partai Gerindra.

Muhyi kini masih menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal NTB, yang juga petinggi Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Wathan (NW) NTB, organisasi Islam terbesar di wilayah NTB.

Paket Zul-Ichsan diusung empat parpol peserta Pemilu 2009 itu yakni Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), dan Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI).

Zulkifli merupakan Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PBB NTB, yang masih menjabat Bupati Sumbawa Barat untuk periode keduanya. Jabatan bupati itu diraih sejak 2005.

Sementara Ichsan adalah mantan Dekan Fakultas Peternakan Universitas Mataram (Unram) yang kini menjabat Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) NTB.

Paket TGB-Amin diusung tujuh parpol yakni Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, dan Partai Gerindra.

Zainul Majdi yang akrab disapa TGB merupakan Gubernur NTB periode 2008-2013, yang juga menjabat Ketua DPD Partai Demokrat.

Sementara Amin merupakan kader Partai Golkar yang menjabat Sekretaris DPD I Partai Golkar NTB, yang juga masih menjadi anggota DPRD NTB periode 2009-2014. Amin berasal dari Pulau Sumbawa.

Paket "Suryadi-Johan" diusung tiga parpol yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bintang Reformasi (PBR) dan Partai Persatuan Rakyat Nasional (PPRN), dengan dukungan sembilan kursi dari total 55 kursi di DPRD NTB hasil Pemilu 2009.

Suryadi merupakan Ketua DPD PKS NTB yang juga Wakil Ketua DPRD NTB, sementara Johan merupakan Wakil Ketua DPD PKS NTB yang juga Wakil Ketua Komisi II DPRD NTB.




Tahapan pemungutan suara dijadwalkan 13 Mei 2013 untuk putaran pertama, dan 22 Juli jika harus ada putaran kedua. (*)

KPU NTB Janjikan Pilkada Transparan Dan Berkualitas



Mataram, 27/3 (Antara) - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berjanji akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) yang transparan dan berkualitas agar menghasilkan pemimpin yang amanah.

"Insya Allah dengan dukungan dari semua pihak kami akan menyelenggarakan pilkada yang transparan, fair, berkualitas, dan yang lebih utama sesuai dengan perundang-undangan," kata Ketua KPU Provinsi NTB Fauzan Khalid, pada pleno KPU NTB dengan agenda penentuan nomor urut pasangan calon peserta pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, di Mataram, Rabu.

Penentuan nomor urut itu dengan cara diundi, masing-masing pasangan calon diminta mengambil kertas undian berisi nomor yang dibungkus pita. Pengundian dilakukan berdasarkan nomor urut saat pasangan calon itu mendaftar di KPU NTB.

Pasangan calon Harun Al Rasyid dan TGH Lalu Muhyi Abidin yang menggunakan sandi politik Harum, lebih dulu mengambil kertas undian dan mendapat nomor urut 3, kemudian diikuti pasangan calon DR KH Zulkifli Muhadli dan Prof DR H Muhammad Ichsan atau Zul-Ichsan yang mendapat nomor urut 4.

Selanjutnya pasangan calon TGH M Zainul Majdi dan Muhammad Amin atau TGB-Amin, yang mendapat nomor urut 1, dan pasangan calon H Suryadi Jaya Purnama dan Johan Rosihan atau "Suryadi-Johan" yang mendapat nomor urut 2.

Keempat pasangan calon itu ditetapkan sebagai peserta dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2013-2018, oleh KPU NTB pada 25 Maret 2013.

Pengundian nomor urut pasangan calon peserta pilkada NTB itu disaksikan lebih dari dua ribu massa pendukung keempat pasangan calon itu.

Fauzan mengharapkan penyelenggaraan pilkada itu didukung semua pihak, baik dari pasangan calon, tim kampanye, partai politik pendukung, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pihak lainnya sehingga pesta demokrasi itu dapat berlangsung aman dan damai, serta lancar.

"Atas dukungan semua pihak, maka pelaksanaan pilkada ini akan dapat terlaksana dengan jujur, aman dan damai, serta berkualitas, sehingga NTB akan memiliki gubernur dan wakil gubernur yang amanah, berkarakter, dan mampu membawa NTB ke arah yang lebih baik," ujarnya.

Setelah pengundian nomor urut pasangan calon itu, maka tahapan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2013-2018, akan berlanjut ke tahapan kampanye yang dijadwalkan 26 April hingga 9 Mei, atau tiga hari sebelum tahapan pemungutan suara 13 Mei 2013.

Fauzan meminta tim kampanye masing-masing pasangan calon akan menertibkan sendiri berbagai alat peraga yang terpampang di lokasi strategis.

"Itu lebih baik jika diturunkan sendiri oleh tim kampanye masing-masing pasangan calon, karena pihak terkait seperti Bawaslu dan aparat berwajib akan menurunkannya jika masih terlihat," ujarnya. (*)
 
Support : Humas PKS Lotim
Copyright © 2011. PKS Gumi Selaparang | Lombok Timur - NTB - All Rights Reserved
Template Created by Mas Template
Proudly powered by Blogger