pengumuman

pengumuman
Home » » Masyarakat Curigai BLSM Ditunggangi Kepentingan Politik

Masyarakat Curigai BLSM Ditunggangi Kepentingan Politik

Written By Unknown on Selasa, 28 Mei 2013 | 16.32


Jakarta – Upaya pemerintah untuk meyakinkan publik bahwa subsidi bahan bakar minyak salah sasaran dan karenanya harus dicabut, nampaknya masih jauh dari sukses. Survei yang dirilis Lembaga Survei Nasional (LSN), Senin (27/5) mengungkapkan penolakkan masyarakat terhadap kenaikan harga BBM. Masyarakat menilai, kenaikkan BBM pada Juni 2013 nanti ditunggangi kepentingan politik penguasa.

“Masyarakat mencurigai kenaikkan BBM dijadikan pintu masuk bagi pemerintah meluncurkan program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) menjelang Pemilu 2014,” kata Direktur Eksekutif LSN.

“Program BLSM sarat muatan politik praktis yang dianggap akan meningkatkan citra partai penguasa pemerintahan,” katanya.

Awal Mei lalu, LSN melakukan survei terhadap 1230 responden dari seluruh provinsi di Indonesia. Populasi yang dipilih adalah penduduk Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas atau belum 17 tahun, tapi sudah menikah. Berdasarkan survei ini, sebanyak 86,1 persen responden secara tegas menolak kenaikan harga BBM. Hanya 12,4 persen responden yang setuju terhadap kebijakan itu. Sisanya, 1,5 persen responden, menyatakan tidak tahu.

Menurut Umar, mayoritas responden yang tidak setuju rencana kenaikan harga BBM adalah masyarakat dari golongan pendidikan dan penghasilan rendah. Sedangkan hampir seluruh responden yang menyatakan persetujuannya berasal dari golongan masyarakat berpendidikan dan berpenghasilan tinggi.

“Masyarakat yang menolak khawatir kenaikan harga BBM akan semakin membebani ekonomi rumah tangga mereka. Sedangkan yang setuju mengaku memahami alasan pemerintah untuk menaikan harga BBM, meskipun mereka kurang yakin kebijakan ini dapat menyehatkan perekonomian masyarakat,” kata Umar.

Umar memaparkan sejumlah alasan kenapa dalam survei itu mayoritas responden menolak kebijakan ini. Ada tiga alasan, ujarnya, yang diungkapkan para responden. Pertama, responden mengkhawatirkan kenaikan harga BBM akan diikuti kenaikan harga barang kebutuhan pokok lainnya sehingga akan memberatkan ekonomi masyarakat golongan tak mampu. Kedua, kenaikan harga BBM tidak akan banyak membantu penyehatan fiskal seperti yang direncanakan pemerintah. Alasan terakhir, responden berprasangka pemberian program bantuan langsung kepada masyarakat sebagai kompensasi kenaikan harga BBM hanyalah skenario politik.

Pada survei itu juga LSN meneliti sikap masyarakat soal program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. Hasilnya, 51,7 persen responden setuju adanya program itu setelah pemerintah menaikan harga BBM, sedangkan 47,2 persen menolak. “Uniknya, yang setuju program BLSM ini adalah masyarakat yang menolak kenaikan harga BBM alias masyarakat dari golongan tidak mampu. Sebaliknya yang menolak program itu adalah responden yang cenderung setuju pada rencana kenaikan harga BBM,” kata Umar. (LES)

*Tajuk.co
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Humas PKS Lotim
Copyright © 2011. PKS Gumi Selaparang | Lombok Timur - NTB - All Rights Reserved
Template Created by Mas Template
Proudly powered by Blogger